Membuka Pintu, Menjaga Jiwa: Panggilan Keramahtamahan untuk Melayani Sesama

Edisi Agustus - September 2026

ARTIKEL

Yemima Nathanya Haryanto

Kesepian yang Berbahaya

“Ramai suara di sekitar, tapi rasanya aku tetap sendirian”, adalah contoh ungkapan yang menggambarkan crowded loneliness. Kondisi dimana seseorang merasa terasing, hampa, atau tidak terhubung secara emosional dengan orang-orang di sekitarnya sekalipun ia sedang berada di tengah keramaian. Persepsi seseorang bahwa dirinya tidak terkoneksi dengan orang-orang di sekitarnya sering disebut sebagai kesepian. Satu dari lima orang Indonesia mengaku merasa kesepian setidaknya satu kali dalam sepekan. Data ini didapat dari survei Litbang Kompas pada Juni 2025 yang melibatkan 512 responden dari 38 provinsi. Dari kelompok responden yang mengalami kesepian, satu per tiga diantaranya mengaku kesepian hampir setiap hari. Data kondisi nasional ini selaras dengan hasil survei internasional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa persentase kesepian di Asia Tenggara mencapai angka 18,3 persen yang artinya Indonesia memiliki tingkat kesepian yang serupa dengan rata-rata regional.

Nyatanya, kesepian bukan sekadar masalah yang sepele, tapi sudah menjadi isu kesehatan mental yang serius. Para psikiater menjelaskan bahwa kesepian berhubungan dengan peningkatan risiko stres, depresi, gangguan kejiwaan, bahkan memicu keinginan bunuh diri. Permasalahan ini kerap muncul di berbagai kalangan, tidak terkecuali dalam kehidupan siswa, mahasiswa, dan alumni. Dipicu oleh berbagai situasi seperti masa transisi pendidikan yang membutuhkan adaptasi, tantangan dalam lingkungan pekerjaan, atau dinamika dalam relasi. Realitanya, banyak jiwa yang merindukan persekutuan yang berkualitas tapi sulit mendapatkannya.

Keramahtamahan yang Dirindukan

Beberapa waktu lalu, Tim Staf Perkantas Jabar mendiskusikan sebuah buku yang berjudul The Gospel Comes with a House Key. Judul yang menarik dan membuat pembaca bertanya, bagaimana caranya Injil diberitakan melalui sebuah kunci pintu rumah? Rosaria Butterfield, sang penulis, membagikan pengalamannya sebagai seorang yang memiliki karakter keras dan menolak Tuhan pada akhirnya mengalami kasih Allah melalui seorang hamba Tuhan yang mau membuka pintu rumahnya bagi dia. Kebersamaan dan percakapan yang dibangun di meja makan itulah yang Tuhan pakai untuk menjadi sarana diberitakannya Kabar Baik. Keramahtamahan sang pendeta membuat hati Rosaria yang dingin dan sepi merasakan kehangatan keluarga Allah. Pengalaman dikasihi itu berdampak besar bagi hidupnya, membuatnya bersemangat untuk mengajak setiap orang percaya memiliki hidup yang terbuka, peka, dan ramah terhadap sesama.

Rasul Petrus dalam suratnya yang pertama memberi nasihat serupa tentang bagaimana orang Kristen harus hidup,

“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” - (1 Petrus 4:8-10).

Bacalah firman ini dua sampai tiga kali dengan tempo yang lambat. Renungkanlah…

Firman ini memiliki makna dan tujuan yang sungguh indah, bukan? Di tengah budaya dunia yang bergulat dengan dilema ‘butuh relasi yang dalam tapi takut kecewa dan terluka’; orang percaya dipanggil untuk menyatakan kasih Allah yang tulus melalui keramahtamahan dan pelayanan.

Ini adalah sebuah panggilan yang radikal. Panggilan ini menuntut orang percaya untuk terus belajar mengikis egonya dan memaksa dirinya keluar dari zona nyaman. Apakah mudah? Mungkin saja, tidak. Bagian dari nasihat Rasul Petrus mengingatkan identitas orang percaya yaitu sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Kesadaran bahwa kasih Allah telah dinyatakan bagi orang percaya sebagai hadiah, selayaknya menggerakkan kita untuk melayani orang lain secara tulus. Tanpa kesadaran akan Injil yang dibangun terus menerus, sangat sulit bagi manusia untuk memberi hidup bagi sesama.

Menghadirkan Keramahtamahan

Alangkah indahnya jika persekutuan siswa, mahasiswa, dan alumni menghadirkan keramahtamahan yang menjangkau. Di tengah kerapuhan anggota persekutuan, kita berupaya saling menjaga melalui tindakan nyata, yang sekalipun sederhana tetapi bermakna. Mau membuka diri untuk terlebih dahulu membangun percakapan dengan teman persekutuan, menggunakan kesempatan makan bersama untuk lebih mengenal, menunjukkan kepedulian yang dibutuhkan, serta membangun budaya berbagi hidup sebagai tandingan budaya individualis.

Di pertengahan tahun ini, mengawali semester yang baru mari kita tularkan semangat keramahtamahan sebagai gaya hidup dalam persekutuan. Suatu budaya yang meneladani hidup Kristus yang melayani dengan tulus.

man wearing grey jacket
man wearing grey jacket

Yemima Nathanya Haryanto

Staf Perkantas Jawa Barat

Sumber:

Artikel : Mengapa Kesepian Berbahaya? https://www.kompas.id/artikel/mengapa-kesepian-menjadi-semakin-meluas-di-indonesia

Buku : Butterfield, Rosaria. (2024). The Gospel Comes with A House Key. Literatur Perkantas Jawa Timur.

“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

Efesus 4:32 (TB)