Aman di dalam Tuhan: Penyembahan di Tengah Ketidakpastian

Edisi Januari - Maret 2026

ARTIKEL

Ferdi Toding Bunga (Alumnus PMK STT Telkom’94)

3/1/2026

Dunia tempat kita hidup hari ini sedang diselimuti oleh kabut ketidakpastian. Krisis global, konflik antarbangsa, tekanan ekonomi, perubahan sosial yang cepat, serta berbagai ancaman terhadap masa depan sering kali menimbulkan kecemasan kolektif. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Presiden Prabowo dalam sebuah pidatonya di bulan Februari kemarin bahwa, saat ini hampir semua negara sedang gelisah dan cemas akan ketidakpastian ekonomi global dan kemungkinan terjadinya perang dunia yang tidak diinginkan. Sementara itu sebagian pengamat mengatakan bahwa dunia saat ini sedang mengalami ”kalibrasi” ulang. Bukan hanya manusia yang gelisah, tetapi alam pun menunjukkan kegelisahannya dengan caranya sendiri. Bahkan orang percaya pun tidak kebal terhadap rasa takut, gelisah, dan rasa tidak aman. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan mendasar muncul: di manakah kita menemukan rasa aman yang sejati ditengah krisis global hari ini?

Alkitab sendiri dengan konsisten mengarahkan perhatian umat Allah bukan pertama-tama pada perubahan keadaan, melainkan pada Pribadi Tuhan itu sendiri. Sebagaimana Yesaya yang diizinkan Tuhan untuk melihat kemuliaan Tuhan yang duduk di tahta kemuliaan-Nya di tengah-tengah masa krisis yang dialami bangsa Israel, pascakematian Raja Uzia saat itu (Yesaya 6:1-4). Demikian juga dengan Pemazmur yang dengan tegas menyatakan bahwa sesungguhnya: “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (Mazmur 46:2). Oleh karena itu, rasa aman orang percaya sejatinya tidak bersumber pada stabilitas dunia, melainkan pada karakter Allah yang setia, berdaulat, dan tidak berubah. Sekalipun dunia berguncang, Tuhan tetaplah bertakhta.

Secara teologis, keamanan sejati berakar pada relasi perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Tuhan bukan sekadar Pelindung yang jauh, melainkan Allah yang hadir dan menyertai. Yesaya 41:10 meneguhkan janji ini: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; jangan bimbang, sebab Aku ini Allahmu.” Penyertaan Allah tidak menghilangkan realitas penderitaan atau ancaman, tetapi memberi kepastian bahwa hidup orang percaya berada di dalam tangan-Nya yang berkuasa dan penuh kasih.

Kesadaran akan keamanan di dalam Tuhan seharusnya membawa orang percaya kepada respons yang tepat, yaitu penyembahan. Penyembahan dalam hal ini bukanlah sekadar aktivitas liturgis atau ekspresi emosional, melainkan sikap hidup yang mengakui siapa Allah dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya. Di tengah ketidakpastian global, penyembahan menjadi tindakan iman yang radikal: mengalihkan fokus dari ketakutan menuju keagungan Tuhan.

Penyembahan lahir dari sebuah pengakuan akan kedaulatan Allah atas kehidupan. Ketika kita menyembah, kita mengakui bahwa Tuhan tetap berdaulat di atas sejarah, bangsa-bangsa, dan masa depan. Rasul Paulus juga pernah meneguhkan iman jemaat di Filipi bahwa damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran mereka di dalam Kristus Yesus (Filipi 4:7). Damai ini bukan hasil dari situasi yang aman (bukan dari luar), melainkan buah dari hidup yang berakar dalam relasi dengan Allah melalui doa, ucapan syukur, dan penyerahan diri.

Bertekun dalam hidup menyembah Tuhan berarti memilih untuk tetap setia memuliakan Dia, bahkan ketika keadaan tidak menentu. Penyembahan melatih hati kita untuk percaya, bukan panik; berharap, bukan putus asa. Dalam penyembahan, kita diingatkan bahwa identitas dan masa depan kita tidak ditentukan oleh kondisi dunia, melainkan oleh Tuhan yang setia memegang janji-Nya. Ketika dunia berkata “Krisis!,” penyembahan menolong kita berkata dengan iman: aku aman di dalam Kristus!. Kiranya di tengah kegelisahan zaman ini, hidup kita semakin diperdalam dalam penyembahan yang memuliakan Tuhan dan meneguhkan iman.

Pada akhirnya, kabut pekat ketidakpastian ini sepertinya masih akan setia menemani perjalanan hidup kita di depan. Namun, sebagai orang-orang yang sedang dan telah dibina dalam pelayanan Siswa, Mahasiswa dan Alumni Perkantas; dalam krisis global ini kita semua dipanggil untuk tetap berdiri teguh dan menguatkan mereka yang lemah. Biarlah rohmu menyala-nyala dalam segala kondisi dan layanilah Tuhan! Soli Deo Gloria!

opened book on brown field during daytime
opened book on brown field during daytime

Ferdi Toding Bunga

Alumnus PMK STT Telkom'94

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; jangan bimbang, sebab Aku ini Allahmu.” Yesaya 41:10