Adakah yang Hilang di Tengah Kehidupanmu?
Edisi April - Mei 2026
ARTIKEL
Edvin William Handoko
5/1/2026
Dua Potret, Satu Cermin
Sebuah survei dari Microsoft (2022) menunjukkan bahwa hampir 50% pekerja di seluruh dunia sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan pekerjaan mereka - demi menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup. Fenomena ini juga sedang meledak menjadi perbincangan di seluruh dunia di kalangan Gen Z dengan istilah quiet quitting. Mereka melihat bekerja sebagai pemenuhan kewajiban dan tidak lebih dari itu. Hal ini bukan berakar dari kemalasan, melainkan orang-orang tersebut lelah mengorbankan diri untuk sesuatu yang tidak terasa bermakna dan memilih untuk segera dapat “menikmati hidup” dengan yang ada.
Di sisi yang lain, data dari Gallup menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 5 pekerja di seluruh dunia mengidentifikasi diri sebagai workaholic - orang-orang yang bekerja jauh melampaui jam normal, bukan karena terpaksa, tetapi untuk pemenuhan diri terhadap pencapaian yang didapat. Wajah ini juga dapat terlihat di berbagai tempat selain kantor seperti kampus, dimana beberapa mahasiswa juga mengejar IPK sempurna, memenuhi CV dengan organisasi dan lomba, dan merasa bersalah setiap kali “diam saja”.
Dua tren. Dua cara hidup yang tampaknya bertolak belakang. Namun, jika kita mencoba memperhatikan lebih dalam, keduanya memiliki persamaan secara fundamental. Si quiet quitter bertanya: “Apakah hidupku sudah cukup nyaman dan kunikmati?” Si workaholic bertanya: “Apakah pencapaianku sudah cukup besar?” Keduanya bertanya tentang hal yang sama - diri mereka sendiri. Dan di sinilah masalahnya bermula.
Keseimbangan hidup dan ambisi terlihat seperti dua kutub yang berlawanan. Namun, keduanya berakar pada tempat yang sama: hidup yang berpusat pada diri. Kita semua, dalam kadar tertentu, bisa jadi ada di dalamnya. Dan dalam logika ini, melakukan sesuatu yang di luar diri sendiri selalu akan kalah bersaing. Selalu ada yang lebih mendesak. Selalu ada alasan yang masuk akal:
“Tugasku belum selesai.”
“Pekerjaanku masih tidak menentu.”
“Aku butuh istirahat dulu.”
Alasan tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun, jika kita mau jujur kepada diri kita sendiri, apakah alasan tersebut hanya untuk tidak “merisikokan” posisi kita bagi hal-hal di luar diri kita sendiri?
Yang Sering Hilang, Tapi Paling Utama
Seorang ahli Taurat pernah datang kepada Yesus dengan pertanyaan yang besar: hukum mana yang paling utama? Yesus menjawab:
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22: 37-39)
Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama tidak terpisahkan dari hukum yang paling utama ini. Mengasihi Allah yang tidak terlihat akan selalu mengalir kepada mengasihi sesama yang terlihat. Jika setiap kita mengaku diri pengikut Kristus, maka kehidupan kita bukan lagi “apakah hidupku sudah seimbang?” atau “apakah pencapaianku sudah cukup?”. Pertanyaannya adalah: dalam semua yang aku kejar hari ini, apakah kasih kepada Allah dan sesama benar-benar ada di sana - atau selalu jadi yang terakhir?
“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” (Matius 9 : 37b). Pada realitanya, kalimat ini masih relevan hingga saat ini. Kita hidup di tengah dunia yang memerlukan pemulihan dan jiwa-jiwa yang membutuhkan orang-orang yang hadir, peduli, dan menjadi teladan. Ini realita yang ada di kantor, kampus, dan gereja hari ini.
Ada karyawan yang tidak punya siapa pun untuk dituju ketika hidupnya sedang goyah. Ada kelompok kecil yang tidak ada yang mau memimpin. Ada jemaat yang duduk setiap minggu di gereja, tapi tidak ada yang benar-benar mengenal mereka. Ladang ini menunggu pekerja yang bukan sekedar hadir sesekali, tetapi berkomitmen - yang dekat dengan Tuhan dalam keseharian dan yang mau direpotkan oleh sesama.
Lalu, Dari Mana Mulai?
“Doa. Dana. Daya”. Ketiga hal ini sering menjadi fondasi utama dalam menopang pelayanan gereja/lembaga Kristen. Doa dan dana memungkinkan pelayanan berjalan dan bertumbuh, meskipun seringkali tidak terlihat secara langsung. Namun, pelayanan tidak hanya membutuhkan dukungan dari kejauhan, tetapi juga orang-orang yang bersedia hadir, melihat kebutuhan secara nyata, dan mengambil bagian dalam daya. Langkah awal dimulai dari hal sederhana: sedikit waktu untuk datang lebih awal di setiap ibadah/persekutuan untuk melihat hal atau orang yang membutuhkan kita, sedikit usaha untuk berinisiatif untuk menghampiri pengurus atau gembala untuk menanyakan “Apa yang dibutuhkan sekarang? Apa yang bisa aku bantu?”, dan banyak lagi “sedikit” langkah yang bisa diambil. Seringkali, apa yang terlihat sederhana dapat dipakai Tuhan menjadi sarana untuk menjadi jawaban doa dan penatalayan berkat yang dipercayakan bagi kepentingan bersama.
Di tengah studi, karir, atau apa pun kehidupan kita, ada sesuatu yang lebih besar dari agenda pribadi yang sedang menunggu. Ada Tuhan yang memanggil kita untuk setia mengerjakan panggilannya. Ada sesama yang membutuhkan orang-orang yang hadir. Ternyata, itulah yang bisa jadi selama ini hilang di tengah kehidupan kita.
Ladang sudah matang. Pekerja masih sedikit. Dan panggilan itu, untuk kita. Sekarang.


Edvin William Handoko
Alumnus PMK Open House'14
Adakah yang Hilang di Tengah Kehidupanmu?
Sebuah Refleksi untuk Meninjau Ulang Ambisi dan Keseimbangan
Alamat
Sekretariat Bandung (CP14)
Jalan Cipaku Permai No.14, Bandung, Jawa Barat 40143
Sekretariat Jatinangor (HOJ)
Jalan Raya Jatinangor No.295, Hegarmanah, Kec. Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat 45363
